Hadits Keutamaan Menuntut Ilmu dan Penjelasannya

Hadits Keutamaan Menuntut Ilmu dan Penjelasannya

Pengertian Ilmu dan Menuntut Ilmu

Ilmu berasal dari bahasa arab kata علم masdar dari yang berarti mengetahui. Secara bahasa ilmu merupakan lawan dari kata عَـلِمَ – يَـعْـلَمُ yang artinya bodoh. Sedangkan secara istilah ilmu artinya sesuatu yang dengannya akan tersingkap segala hakikat yang dibutuhkan secara sempurna

Imam Raghib al- Ashfahani dalam kitabnya Mufradat Al –Quran, dikatakan bahwa “ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikatnya. Ia terbagi dua : pertama, mengetahui inti sesuatu itu (oleh ahli logika dinamakan ahli tashawwur). Kedua, menghukum adanya  sesuatu  pada sesuatu yang ada (oleh ahli logika dinamakan tashdiq, maksudnya mengetahui hubungan sesuatu dengan sesuatu).”

Menuntut ilmu merupakan usaha yang dilakukan oleh seseorang yang bertujuan untuk merubah tingkah laku dan perilaku ke arah yang lebih baik. Sebab, pada dasarnya ilmu menunjukkan arah menuju kebenaran dan meninggalkan kebodohan. Sebelum beramal, seseorang harus memulai dengan ilmu. Beramal yaitu melakukan suatu pekerjaan. Dalam melakukan pekerjaan tersebut seseorang dituntut mengetahui ilmunya  agar pekerjaan tersebut lebih terarah dan tidak berantakan.

Rasulullah SAW bersabda :

Artinya : “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913)

Dalam hadis tersebut jelas bahwa menuntut ilmu wajib bagi setiap umat islam. Jadi, apabila sudah ada perintah Allah maka yang harus kita lakukan adalah sami’na wa atha’na yaitu kami dengar dan kami taat. Hal ini seperti firman Allah Swt.

 “Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman apabila diajak untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul itu memberikan keputusan hukum di antara mereka hanyalah dengan mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat”. Dan hanya merekalah orang-orang yang berbahagia.” (QS. An-Nuur [24]: 51).

Ayat-Ayat Al-Quran dan Hadist Tentang Keutamaan Ilmu dan Menuntut Ilmu

Berikut beberapa keutamaan ilmu dan menuntutut ilmu yang disebutkan di dalam Al-Quran dan As-Sunnah :

  1. Orang yang Berilmu akan Ditinggian Derajatnya

Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang mau menuntut ilmu seperti firman Allah Swt.

Artinya : Hai orang orang yang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu : “Berlapang lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan berdirilah kamu maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.  Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Q.S Al-Mujaadalah:11)

Selain itu, Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu sebagaimana diri-Nya memuliakan diri-Nya dan mengagungkan kekuasaan-Nya, kemudian setelah itu Dia memuliakan malaikat dan juga memuliakan orang-orang yang berilmu, seperti firman Allah Swt.

Artinya : “Allah menyatakan bahwasannya tidak ada Tuhan(yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Q.S Ali Imran :18)

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur-an beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 817)]

Orang yang berilmu dan mengamalkannya, maka Allah akan mengangkat kedudukannya dan menaikkan derajatnya di akhirat.

Imam Sufyan bin ‘Uyainah (wafat th. 198 H) rahimahullaah mengatakan, “Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para Nabi dan ulama.”

  1. Menuntut Ilmu dan Mengajarkannya Lebih Utama dari pada Ibadah Sunnah dan Wajib Kifayah

Nabi SAW bersabda :

Artinya :“Keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah, dan agama kalian yang paling baik adalah al-wara’ (ketakwaan).” Hadits hasan: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath (no. 3972) dan al-Bazzar dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallaahu ‘anhu, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (no. 68), lihat juga Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/106, no. 96).

‘Ali bin Abi Thalib (wafat th. 40 H) Radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Orang yang berilmu lebih besar ganjaran pahalanya dari pada orang yang puasa, shalat, dan berjihad di jalan Allah.” Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 133).

  1. Menuntut Ilmu Merupakan Ibadah dan Akan Dipermudah Jalan Menuju Syurga

Menuntut ilmu adalah ibadah yang paling utama, sehingga Allah  Swt. menjadikan menuntut ilmu sebagai bagian dari jihad fisabilillah, seperti firman Allah Swt. :

 Artinya : Tidak sepatutnya bagi mu’min itu pergi semuanya (medan perang), mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk membei peringatan pada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (Q.S At Taubah : 122)

 Rasulullah SAW bersabda:

Artinya : “Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.”

(Hadits sahih, diriwayatkan dari beberapa sahabat diantaranya: Anas bin Malik, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu Anhum. Lihat: Sahih al-jami: 3913)

Disebutkan dalam sahih Muslim, dari hadits Abu Hurairah Radhiallahu anha, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah menudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR.Muslim:2699)

Hadits tersebut menerangkan bahwa seorang yang keluar untuk menuntut ilmu, akan menjadi sebab masuknya seorang hamba ke dalam surga. Hal ini karena ketika seorang muslim mempelajari agamanya dengan penuh keikhlasan, dia akan dimudahkan untuk memahami hal yang baik dan hal yang buruk, hal yang haram dan hal yang halal, yang batil dan yang haq, kemudian dia berusaha mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, serta dilakukan dengan ikhlas dan mengikuti bimbingan Rasulullah SAW, maka dia menjadi hamba yang diridhai Allah Swt. dan balasannya adalah surga.

  1. Kesaksian Allah Swt. kepada Orang-Orang yang Berilmu

Allah Swt. berfirman :

Artinya :“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” [Ali ‘Imran: 18]

Pada ayat tersebut, Allah Swt. meminta orang yang berilmu bersaksi terhadap sesuatu yang sangat agung untuk diberikan kesaksian, yakni keesaan Allah Swt. Hal tersebut menunjukkan keutamaan ilmu dan orang-orang yang berilmu.

Selain itu, dalam ayat tersebut memuat rekomendasi Allah tentang kesucian dan keadilan orang yang berilmu.

Di antara dalil yang juga menunjukkan hal ini adalah hadits yang masyhur, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :

Artinya : “Ilmu ini akan dibawa oleh para ulama yang adil dari tiap-tiap generasi. Mereka akan memberantas penyimpangan/perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang ghuluw (yang melampaui batas), menolak kebohongan pelaku kebathilan (para pendusta), dan takwil orang-orang bodoh.” (Hasan lighairihi: Diriwayatkan oleh al-‘Uqaily dalam adh-Dhu’afaa-ul Kabir (I/26), Ibnu Abi Hatim dalam al-Jarh wat Ta’dil (II/17) dan lainnya, dari Ibrahim bin ‘Abdurrahman al-‘Adzry secara mursal. Untuk lebih jelas tentang takhrij hadits ini dapat dilihat dalam Irsyaadul Fuhuul fii Tashhiih Hadiitsil ‘Udul (hal. 11-35) karya Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied al-Hilali.)

Baca Juga : Hadits Tentang Toleransi

  1. Ilmu adalah Cahaya

Allah Swt. berfirman yang artinya :

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan . Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan Allah mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”

Dalam ayat tersebut menunjukkan keutamaan ilmu, yang disifatkan sebagai cahaya yang membimbing siapa saja yang mengikuti keridhaan-Nya menuju jalan yang menyelamatkan seorang hamba dari penyimpangan dan kesesatan, dan mengantarkan seorang hamba menuju jalan keselamatan dunia dan akhirat, mengeluarkan dari kegelapan, yaitu kegelapan syirik, kemaksiatan dan kejahilan, bid’ah, menuju kepada cahaya tauhid, ilmu, hidayah, ketaatan dan seluruh kebaikan.

  1. Ilmu adalah Nikmat yang Paling Agung

Allah berfirman:

Artinya : “… Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur-an) dan hikmah (As-Sunnah) kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu sangat besar.” [An-Nisaa’: 113]

  1. Ilmu Merupakan tanda Kebaikan Seorang Hamba

Ketika seorang hamba diberi kemudahan dalam memahami dan mempelajari ilmu syar’i. Hal ini menunjukkan Allah menghendaki kebaikan bagi hamba tersebut, dan membimbingnya menuju kepada hal-hal yang diridhai-Nya. Rasulullah SAW bersabda:

Artinya :“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan kepada seorang hamba maka Ia akan difahamkan tentang agamanya.”

(Muttafaq Alaihi dari Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu anhuma)

Dan Rasulullah SAW bersabda:

Artinya :“Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menciptaan makhluk-Nya dalam kegelapan, Lalu Allah memberikan kepada mereka dari cahaya-Nya, maka siapa yang mendapatkan cahaya tersebut, maka dia mendapatkan hidayah, dan siapa yang tidak mendapatkannya maka dia tersesat.”

(HR. Ahmad (2/176), Tirmidzi,no:2642, Ibnu Hibban (6169),Al-Hakim dalam mustadrak (1/84), dari hadits Abdullah bin Amr bin Ash. Disahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah (3/1076)

Jadilah orang- orang terbaik yang dimuliakan Allah Swt. dengan berusaha mempelajari agama Allah dan mengajarkannya. Rasulullah SAW bersabda:

Artinya : “Sebaik- baik kalian adalah yang mempelajari al-qur’an dan mengajarkannya.” (HR.Bukhari (4739), dari Utsman Bin Affan Radhiallahu Anhu)

  1. Ilmu Adalah Kebaikan di Dunia

Firman Allah Swt.

Artinya :“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia”

Al-Hasan (wafat th. 110 H) rahimahullaah berkata, “Yang dimaksud kebaikan dunia adalah ilmu dan ibadah.” Dan firman Allah,

Artinya : “Dan kebaikan di akhirat.” [Al-Baqarah: 201]

Al-Hasan rahimahullaah berkata, “Maksudnya adalah Surga.”
Sesungguhnya kebaikan dunia yang paling agung yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih, dan ini adalah sebaik-baik tafsir ayat di atas.

Ibnu Wahb (wafat th. 197 H) rahimahullaah berkata, “Aku mendengar Sufyan ats-Tsauri rahimahullaah berkata, ‘Kebaikan di dunia adalah rizki yang baik dan ilmu, sedangkan kebaikan di akhirat adalah Surga.’”

  1. Ilmu Agama Menyelamatkan dari Laknat Allah Azza Wajalla

Dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu Anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya dunia itu terlaknat, terlaknat segala isinya, kecuali zikir kepada Allah dan amalan- amalan ketaatan, demikian pula seorang yang alim atau yang belajar.”

(HR.Tirmidzi (2322), Ibnu Majah (4112), dihasankan Al-Albani dalam sahih al-jami’,no:1609)

Berkata Al-Munawi dalam menjelaskan hadits ini: “dunia terlaknat, disebabkan karena ia memperdaya jiwa-jiwa manusia dengan keindahan dan kenikmatannya, yang memalingkannya dari beribadah kepada Allah lalu mengikuti hawa nafsunya.”

(Tuhfatul ahwadzi:6/504) 

Dengan menuntut ilmu dan mengajarkannya, akan menjadikan seorang hamba yang masuk ke dalam kelompok yang akan meraih ridha-Nya, dan selamat dari kemurkaan dan siksa-Nya.

Baca Juga : Hadits Tentang Kebersihan Sebagian Dari Iman

  1. Ilmu Lebih Utama dari Ibadah

Rasulullah SAW bersabda:

“Keutamaan ilmu lebih aku sukai dari keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agama kalian adalah bersikap wara.”

(HR.Al-Hakim, Al-Bazzar, At-Thayalisi, dari Hudzaifah bin Yaman Radhiallahu Anhu. Disahihkan Al-Albani dalam sahih al-jami’:4214)

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu dibanding ahli ibadah, seperti keutamaan bulan dimalam purnama dibanding seluruh bintang- bintang.”

(HR.Abu Dawud (3641), Ibnu Majah (223), dari hadits Abu Darda’ Radhiallahu Anhu)

Maksud dari hadist tersebut bahwa ilmu merupakan bagian ibadah yang paling mulia, bahkan bagian dari jihad fi sabilillah. Berkata Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah:

“Aku tidak mengetahui ada satu ibadah yang lebih utama dari engkau mengajarkan ilmu kepada manusia.” (Jami’ bayanil ilmi, Ibnu Abdil Bar: 227)

  1. Ilmu Adalah Warisan Para Nabi

Rasullullah SAW bersabda :

“Para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Maka dari itu, barang siapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang cukup.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah; dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6297). 

  1. Orang yang Paling Takut pada Allah adalah Orang yang Berilmu

 Seperti dalam ayat :

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna dan baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 308).

Para ulama berkata,

Siapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut pada Allah”. 

Ibnu Mas’ud Radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Cukuplah rasa takut kepada Allah itu disebut sebagai ilmu. Dan cukuplah tertipu dengan tidak mengingat Allah disebut sebagai suatu kebodohan.”

Imam Ahmad rahimahullaah berkata, “Pokok ilmu adalah rasa takut kepada Allah.” Apabila seseorang bertambah ilmunya, maka akan bertambah rasa takutnya kepada Allah.

  1. Ilmu Adalah Jalan Menuju Kebahagiaan

Imam Ahmad dan at-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Shahabat Abu Kabasyah al-Anmari (wafat th. 13 H) radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda,

“…Sesungguhnya dunia diberikan untuk empat orang: (1) seorang hamba yang Allah berikan ilmu dan harta, kemudian dia bertaqwa kepada Allah dalam hartanya, dengannya ia menyambung sila-turahmi, dan mengetahui hak Allah di dalamnya. Orang tersebut kedudukannya paling baik (di sisi Allah). (2) Seorang hamba yang Allah berikan ilmu namun tidak diberikan harta, dengan niatnya yang jujur ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan.’ Ia dengan niatnya itu, maka pahala keduanya sama. (3) Seorang hamba yang Allah berikan harta namun tidak diberikan ilmu. Lalu ia tidak dapat mengatur hartanya, tidak bertaqwa kepada Allah dalam hartanya, tidak menyambung silaturahmi dengannya, dan tidak mengetahui hak Allah di dalamnya. Kedudukan orang tersebut adalah yang paling jelek (di sisi Allah). Dan (4) seorang hamba yang tidak Allah berikan harta tidak juga ilmu, ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan.’ Ia berniat seperti itu dan keduanya sama dalam mendapatkan dosa.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (IV/230-231), at-Tirmidzi (no. 2325), Ibnu Majah (no. 4228), al-Baihaqi (IV/ 189), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (XIV/289), dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (XXII/345-346, no. 868-870), dari Shahabat Abu Kabsyah al-Anmari radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Shahiih Sunan at-Tirmidzi (II/270, no. 1894)].

  1. Menuntut Ilmu akan Membawa kepada Kebersihan Hati, Kemuliaannya, Kehidupannya, dan Cahayanya

Setiap umat islam harus mengetahui bahwa orang yang menuntut ilmu yaitu orang yang bahagia sebab dia mendengarkan ayat-ayat Al-Quran, hadits-hadits Nabi SAW, dan perkataan para Shahabat. Hal tersebut membuat hati terasa nikmat dan akan membawa pada kebersihan hati dan kemuliaan.

  1. Orang yang Menuntut Ilmu akan Didoakan Oleh Rasulullah SAW

Rasulullah SAW bersabda:

“Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengarkan sebuah hadits dari kami, lalu menghafalkannya dan menyampaikannya kepada orang lain. Banyak orang yang membawa fiqih namun ia tidak memahami. Dan banyak orang yang menerangkan fiqih kepada orang yang lebih faham darinya. Ada tiga hal yang dengannya hati seorang muslim akan bersih (dari khianat, dengki dan keberkahan), yaitu melakukan sesuatu dengan ikhlas karena Allah, menasihati ulil amri (penguasa), dan berpegang teguh pada jama’ah kaum Muslimin, karena do’a mereka meliputi orang-orang yang berada di belakang mereka.” Beliau bersabda, “Barangsiapa yang keinginannya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan kekuatannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Namun barangsiapa yang niatnya mencari dunia, Allah akan mencerai-beraikan urusan dunianya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yang telah ditetapkan baginya.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (V/183), ad-Darimi (I/75), Ibnu Hibban (no. 72, 73-Mawaarid), Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/175-176, no. 184), lafazh hadits ini milik Imam Ahmad, dari ‘Abdurrahman bin Aban bin ‘Utsman radhiyallaahu ‘anhum. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 404) dan al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 70-74)]

Jika keutamaan ilmu hanyalah ini saja, maka sudah cukup hal itu untuk menunjukkan kemuliaannya. Karena, Nabi SAW berdo’a untuk orang yang mendengar sabda beliau, kemudian memahaminya, menghafalnya, dan menyampaikannya.

  1. Menuntut Ilmu adalah Jihad di Jalan Allah

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

“Barangsiapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) dengan tujuan mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka ia laksana orang yang berjihad di jalan Allah Ta’ala. Dan barangsiapa yang memasukinya dengan tujuan selain itu, maka ia laksana orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan miliknya.” [Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (no. 87-at-Ta’liiqaatul Hisaan), Ibnu Majah (no. 227), Ahmad (II/350, 526-527), Ibnu Abi Syaibah (no. 33061), dan al-Hakim (I/91), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu].

  1. Pahala Ilmu yang Diajarkan Akan Tetap Mengalir Meskipun Pemiliknya Telah Meninggal Dunia

Dalam Shahiih Muslim, dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi SAW, beliau bersabda,

“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka pahala amalnya terputus, kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akannya.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1631), al-Bukhari dalam Adabul Mufrad (no. 38), Abu Dawud (no. 2880), an-Nasa-i (VI/251), at-Tirmidzi (no. 1376), Ahmad (II/372), al-Baihaqi (VI/ 278), lafazh ini milik at-Tirmidzi. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 1580)].

  1. Allah Tidak Memerintahkan Nabi-Nya Meminta Tambahan Apa Pun Selain Ilmu

Allah berfirman:

 “Dan katakanlah,‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu“. (QS. Thaaha [20] : 114). Dalil ini tegas diwajibkannya menuntut ilmu. 

  1. Faham Dalam Masalah Agama Termasuk Tanda-Tanda Kebaikan

Dalam ash-Shahiihain dari hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan (wafat th. 78 H) radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” (Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (I/306, II/234, IV/92, 95, 96), al-Bukhari (no. 71, 3116, 7312), dan Muslim (no. 1037), dari Shahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallaahu ‘anhuma).

Orang yang tidak diberikan pemahaman dalam agamanya maka tidak dikehendaki kebaikan oleh Allah. Orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah menjadikannya faham dalam masalah agama. Dan barangsiapa yang diberikan pemahaman tentang agama, maka Allah telah menghendaki kebaikan untuknya. Sehingga yang dimaksud dengan pemahaman (fiqh) yaitu ilmu yang mengharuskan adanya amal.

Imam an-Nawawi (wafat th. 676 H) rahimahullaah mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat keutamaan ilmu, mendalami agama, dan dorongan kepadanya. Sebabnya adalah karena ilmu akan menuntunnya kepada ketaqwaan kepada Allah Ta’ala.”

Masih banyak lagi keutamaan ilmu lainnya. Untuk selengkapnya mengenai hadist keutamaan menuntut ilmu, dapat Anda download file Pdf nya dengan klik link di bawah ini :

Hadits Keutamaan Menuntut Ilmu dan Penjelasannya

Download Hadist Keutamaan Menuntut Ilmu Pdf

Demikian informasi mengenai hadist keutamaan menuntut ilmu. Semoga informasi ini dapat bermanfaat. Jangan lupa share dan kunjungi terus web site kami. Nantikan informasi-informasi penting lainnya hanya di dapurpendidikan.com

Baca Juga  Ceramah Agama Singkat: Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam Teks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.