Hadits Tentang Toleransi

Hadits Tentang Toleransi

Pengertian Toleransi

Kata toleransi merupakan serapan dari bahasa Inggris yaitu tolerance yang definisinya tidak jauh berbeda dengan kata toleransi atau toleran. Toleransi adalah suatu sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok atau antar individu dalam masyarakat maupun dalam lingkup lainnya. Toleransi dalam konteks budaya, sosial, dan agama yang berarti bahwa perbuatan dan sikap yang melarang adanya diskriminasi terhadap orang-orang atau kelompok yang berbeda dengan mayoritas dalam suatu masyarakat.

Toleransi dalam kajian fiqih Islam masuk ke dalam kategori al-mu’amalat (interaksi sosial), seperti dalam berbagai penjelasan Rasulullah saw. yang termaktub dalam berbagai manuskrip al-haditsiyah. Dalam konsep Al-Qur’an, manusia akan terpuruk dalam kesesatan jika dia tidak ditemukan singkronisasi kebajikan, baik yang ada hubungannya secara vertikal maupun hubungannya secara horizontal. Umat Islam harus mewaspadai, pada hal apa islam membenarkan konsep toleransi dan pada hal mana yang tidak diperbolehkan adanya  konsep toleransi.

Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Toleransi

Secara definisi, islam berarti damai, selamat dan menyerahkan diri. Sehingga islam dikenal dengan istilah agama rahmatal lil’ālamîn yaitu agama yang mengayomi seluruh alam. Ini berarti islam bukan untuk menghapus semua agama yang sudah ada. Namun, islam menawarkan toleransi dalam bentuk saling menghormati, karena islam menyadari bahwa keragaman agama dan keyakinan yang ada pada umat manusia adalah kehendak Allah. Barikut ayat-ayat Al Quran tentang toleransi, diantaranya :

  1. Q.S. Al-Baqarah 256

Artinya:

“Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat Kuat (Islam) yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ayat ini berkaitan dengan Hushain dari golongan Anshar, suku Bani Salim bin ‘Auf yang memiliki dua orang anak yang beragama Nasrani, sedang dia sendiri adalah seorang muslim. Dia bertanya kepada Rasullullah saw: “Bolehkah saya paksa kedua anak itu, karena mereka tidak taat kepadaku, dan tetap ingin beragama Nasrani?.” Allah menjawabannya dengan ayat ini bahwa hal tersebut tidak ada paksaan dalam Islam.

Kesimpulan yang dapat dipelajari :

  • Kewajiban kita hanyalah menyampaikan kebenaran sesuai dengan Al Quran dan Hadist dengan cara yang baik sehingga mereka masuk islam dengan kesadaran diri sendiri tanpa ada paksaan. Karena dalam masuk agama islam tidak dibenarkan adanya paksaan.
  • Ketika kita sudah menyampaikan kewajiban kita dengan benar, soal mereka ingin beriman atau tidak beriman itu urusan Allah Swt. karena soal hidayah Allah yang tentukan.
  • Sudah jelas perbedaan antara kebenaran dan kebatilan. Barangsiapa yang mengikuti kebenaran, maka baginya kebaikan. Akan tetapi, jika mengikuti hawa nafsunya, maka baginya penyesalan di kemudian hari.
  1. Q.S. Yunus : 40-41

Artinya:

Dan di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al Qur’an, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika mereka mendustakan kamu, Maka Katakanlah: “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang Aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Yunus: 40-41)
Kesimpulan yang dapat dipelajari :

  • Ketika Nabi Muhammad SAW diutus dengan membawa Al-Qur’an, kaum Quraisy ada yang beriman dan ada yang tidak beriman.
  • Allah SWT mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi, yakni mereka yang musyrik dan berbuat zalim serta aniaya.
  • Bentuk toleransi yang ada pada ayat ini adalah apabila mendapati orang-orang yang mendustakan agama islam, maka umat islam tidak perlu marah, akan tetapi katakan kepadanya “Atasmu amalmu dan atasku amalku karena setiap amal akan dipertanggungjawabkan.”
  • Pada ayat ke 41 surat Yunus yang artinya “Bagiku pekerjaanku bagi kamu pekerjaan kamu”, hal ini berarti bahwa Islam sangat menghargai perbedaan-perbedaan diantara manusia, karena masing-masing punya hak. Meskipun islam itu merupakan agama yang benar, namun tidak dibenarkan memaksakan orang lain memeluk agama Islam.
  1. Q.S. Yunus : 99

Artinya :

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya. (QS. Yunus : 99).

Kesimpulan yang dapat dipelajari :

Ayat ini menerangkan bahwa jika Allah berkehendak supaya seluruh manusia beribadah dan beriman kepada Allah Swt. tentulah hal tersebut sangat mudah bagi-Nya. Namun, Allah tidak melakukan hal tersebut, Allah tetap menciptakan manusia sedemikian rupa, sehingga manusia mempertimbangkan sendiri dengan pilihannya, apakah mau beriman atau tidak beriman (kafir). Itulah mengapa ada sebagian manusia yang beriman dan ada pula manusia yang kafir.

  1. Q.S. Al Kahfi : 29

Artinya :

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (Q.S. Al-Kahfi: 29)
Kesimpulan yang dapat dipelajari :

  • Saat Nabi Muhammad SAW diutus dengan membawa Al-Qur’an, kaum Quraisy ada yang beriman dan ada juga yang tidak beriman.
  • Tugas umat Islam hanya menyampaikan dakwah. Untuk urusan hidayah, Allah yang mengatur dan memberikannya. Sehingga apabila dakwah diterima ataupun tidak diterima, yang harus kita lakukan selanjutnya adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah Swt.
  • Bentuk toleransi dalam ayat ini yaitu tidak memaksakan hidayah pada seseorang, namun hanya menyampaikan bahwa atas orang-orang yang zalim, maka Allah mengancam bahwa adanya neraka bagi mereka yang zalim.
  1. Q.S. Al-Kafirun : 1-6

Artinya:

Katakanlah : Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. (Q.S. Al-Kafirun: 1-6).

Surat ini merupakan surat makkiyah yang diturunkan pada periode Makkah walaupun ada juga yang berpendapat bahwa surat ini diturunkan pada periode Madinah. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan bahwa surat ini merupakan surat penolakan (baraa’) terhadap seluruh amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik, dan yang memerintahkan agar kita ikhlas dalam setiap amal ibadah kita kepada Allah, tanpa ada sedikitpun campuran, baik dalam niat, tujuan maupun bentuk dan tata caranya. Karena setiap bentuk percampuran tersebut merupakan sebuah kesyirikan yang tertolak secara tegas dalam konsep aqidah dan tauhid Islam.

Ayat ini turun pada saat orang-orang Quraisy berusaha ingin menghentikan dakwah yang dilakukan oleh Rasullah saw. Mereka sudah membujuk dengan berbagai cara dari mulai, harta, tahta, dan wanita. Mereka juga mengajak Rasulullah saw. bertoleransi untuk saling menyembah Tuhan satu sama lainnya. Hal ini berarti kaum kafir Quraisy meminta Rasulullah untuk menyembah Tuhan mereka pada tahun tertentu dengan silih bergantian. Mereka pun akan menyembah Allah pada tahun lainnya. Dengan adanya ayat ini bahwa menolak dengan tegas ajakan kaum Quraisy tersebut, toleransi yang seperti ini tidaklah tepat.
Kesimpulan yang dapat dipelajari, diantaranya :

  • Ikrar kemurnian tauhid, khususnya tauhid uluhiyah(tauhid ibadah). Islam tegas bahwa hanya menyembah dan patuh pada perintah Allah, tidak akan menyekutukanNya dengan lainnya.
  • S. Al-kafirun ditutup dengan pernyataan secara timbal balik, yaitu untukmu agamamu dan untuku agamaku. Dengan demikian islam tidak memaksa kaum lain untuk menyembah Allah karena kewajiban umat islam hanya menyampaikan dakwah, tidak untuk memaksa masuk islam.
  1. Q.S Al-Hujurat : 10-13

Artinya :

“10.orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. 11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah imandan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. 12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. 13. Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Dalam Al-Quran dijelaskan persaudaraan dalam satu agama bagaikan persaudaraan dalam satu nasab, dan islamlah sebagai orang tuanya. Keanekaragaman manusia bukanlah untuk berpecah belah dan bukan saling membanggakan kedudukan, namun agar saling mengenal, bersilaturahmi, saling memberi dan menerima. Hal yang penting bahwa semua manusia adalah sama di hadapan Allah, yang membedakan derajat mereka yaitu ketaqwaannya kepada Allah Swt.

Hadits-Hadits Tentang Toleransi

Hadits-hadits yang menjelaskan tentang toleransi cukup banyak, diantaranya :

  1. Mencintai Semua Tetangga

Mencintai sesama tetangga haditsnya diriwayatkan oleh Anas ibn Malik, yaitu sebagai berikut :

Dinarasikan Anas ibn Malik ra., sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda  : Demi yang jawaku di tangan-Nya, tidaklah beriman seseorang hamba sehingga dia mencintai tetangganya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.

HR. Muslim: dan Abu Ya’la: 2967.

Dalam menggambarkan kualitas keimanan seseorang, tidak hanya cukup dengan mencintai diri sendiri, namun juga harus dicerminkan juga dengan mencintai semua tetangganya. Kata “tetangga” dalam hadits tersebut cakupannya umum, yaitu tetangga sesama orang muslim atau tetangga non muslim.

Rasulullah saw. bukan hanya bertetangga dengan muslim saja, namun beliau juga bertetangga dengan non muslim, baik itu orang nasrani, yahudi, majusi bahkan kelompok al-shabi’ah. Mereka semua sama-sama mempunyai hak untuk dicintai, dalam riwayat lain juga untuk mendapatkan prilaku kedamaian. Dalam redaksi lain Rasulullah saw. bersabda:

Dinarasikan Ibn Amr ra., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah sebaik-baik mereka terhadap sesama saudaranya dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah sebaik-baik mereka terhadap tetangganya.

Hr. Ahmad: 6566. Turmudzi: 1944. Ibn Hibban: 518. Hakim: 1620. Baihaqi dalam Syu’abil Iman: 9541. Sa’id ibn Mansur: 2388. Darimi: 2437. Bukhari dalam Adab Mufrad: 115. Ibn Khuzaimah: 2539.

Jelas bahwa dari hadis tersebut bahwa sebaik-baiknya seorang muslim adalah muslim yang terbaik dalam mu’amalahnya dengan semua tetangganya, baik tetangga muslim maupun tetangga non-muslim, karena semuanya berhak memperoleh kedamaian. Inilah sebabnya, sejarah membuktikan bahwa berdampingan dengan Rasulullah, sebelum Madinah dinyatakan sebagai tanah haram (yang tidak boleh dihuni kecuali oleh muslim), Rasulullah saw. berdampingan damai dengan orang nasrani, yahudi, majusyi, bahkan al-shabi’ah.

  1. Larangan Mendzalimi Kafir Dzimmi

Selain bertetangga dengan non muslim, Rasulullah saw. Juga mengadakan kontak dagang dengan non muslim. Menurut hadits, Rasulullah saw. Meminjam kepada orang yahudi dengan menggadaikan baju besinya. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. melarang umatnya untuk menyakiti kafir dzimmi, yaitu sebagai berikut:

Dinarasikan Ibn Mas’ud ra., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang menyakiti kafir dzimi, maka saya kelak yang akan menjadi musuhnya. Dan barangsiapa yang saya musuhi, maka dia yang saya musuhi di hari kiamat.

Hr. Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Bagdad: 8/370. Ditemukan pada hadits ini memunyai dua jalur sanad yang keduanya lemah.

Agama Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi keadilan. Keadilan adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan hak sesuai dengan haknya. Agama Islam melarang berbuat zalim pada agama selain islam dengan merampas hak-hak mereka. Allah Swt. berfirman :

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al-Mumtahah: 8)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullah menafsirkan, “Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung silaturrahmi, membalas kebaikan, berbuat adil kepada orang-orang musyrik, baik dari keluarga kalian dan orang lain. Selama mereka tidak memerangi kalian karena agama dan selama mereka tidak mengusir kalian dari negeri kalian, maka tidak mengapa kalian menjalin hubungan dengan mereka karena menjalin hubungan dengan mereka dalam keadaan seperti ini tidak ada larangan dan tidak ada kerusakan.”

Bukti Islam Menjunjung Toleransi Terhadap Agama Lain

Dalam bertoleransi tidak boleh seenaknya. Misalnya menghadiri acara ibadah atau ritual kesyirikan agama lainnya. Sebab, apabila sudah masuk dalam urusan agama, tidak ada kata toleransi dan saling mendukung.

Berikut beberapa bukti bahwa islam adalah agama yang menjunjung toleransi terhadap agama lainnya, diantaranya:

  1. Ajaran berbuat baik terhadap tetangga meskipun non-muslim

Teladan dari salafus shalih dalam berbuat baik terhadap tetangganya orang Yahudi. Seorang tabi’in dan beliau adalah ahli tafsir, imam Mujahid, ia berkata, “Saya pernah berada di sisi Abdullah bin ‘Amru sedangkan pembantunya sedang memotong kambing. Dia lalu berkata,

Wahai pembantu! Jika anda telah selesai (menyembelihnya), maka bagilah dengan memulai dari tetangga Yahudi kita terlebih dahulu”.

Kemudian ada salah seorang yang berkata,

(kenapa engkau memberikannya) kepada Yahudi? Semoga Allah memperbaiki kondisimu”.

‘Abdullah bin ’Amru lalu berkata,

‘Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat terhadap tetangga sampai kami khawatir kalau beliau akan menetapkan hak waris kepadanya.”

  1. Bermuamalah yang baik dan tidak dzalim terhadap keluarga dan kerabat meskipun non-muslim

Contohnya seperti pada ayat yang menjelaskan ketika orang tua kita bukan islam, maka tetap harus berbuat baik dan berbakti kepada orang tua dalam hal muamalah. Allah Ta’ala berfirman,

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15)

  1. Islam melarang membunuh non-muslim kecuali bila mereka memerangi kaum muslimin.

Islam melarang membunuh orang kafir, kecuali orang kafir harbi yaitu kafir yang memerangi kaum muslimin. Selain itu, orang kafir yang mendapat suaka atau ada perjanjian dengan kaum muslimin semisal kafir dzimmi, kafir musta’man dan kafir mu’ahad, maka dilarang untuk dibunuh. Ancamannya apabila melanggar sangatlah keras :

Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun. ”

  1. Adil dalam hukum dan peradilan terhadap non-muslim

Contohnya seperti saat Umar bin Khattab radhiallahu’anhu membebaskan dan menaklukkan Yerussalem Palestina. Beliau menjamin setiap warganya untuk menganut agamanya dan membawa salib mereka. Beliau tidak memaksakan agar mereka masuk islam, asalkan mereka tetap membayar pajak kepada pemerintah Muslim. Hal ini berbeda saat bangsa dan agama lain mengusai, justru mereka melakukan pembantaian. Selain itu, Umar bin Khattab memberikan kebebasan dan memberikan hak-hak hukum serta perlindungan kepada penduduk Yerussalem meskipun mereka non-muslim.

Ajakan Toleransi Agama yang Seenaknya atau Berlebihan

Toleransi yang berlebihan, sebetulnya sudah ada ajakannya sejak Rasulullah saw. memperjuangkan agama Islam.

Saat itu, beberapa orang kafir Quraisy yaitu Al Walid bin Mughirah, Al ‘Ash bin Wail, Al Aswad Ibnul Muthollib, dan Umayyah bin Khalaf menemui Nabi saw. mereka menawarkan tolenasi berlebihan kepada beliau, mereka berkata:

Wahai Muhammad, bagaimana jika kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagaian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, maka kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.”

Lalu turunlah ayat berikut yang menolak keras toleransi berlebihan atau kebablasan semacam ini,

Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang-orang kafir), “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. (QS. Al-Kafirun: 1-6).

Untuk selengkapnya mengenai hadist tentang toleransi, dapat Anda download file Pdf nya dengan klik link di bawah ini :

Download Hadist Tentang Toleransi Pdf

Demikian informasi mengenai hadist tentang toleransi. Semoga informasi ini dapat bermanfaat. Jangan lupa share dan kunjungi terus web site kami. Nantikan informasi-informasi penting lainnya hanya di dapurpendidikan.com

Baca Juga  Hadits Nabi Tentang Wanita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.