Mengenali Karakteristik dan Perilaku Pedofilia

Mengenali karakteristik dan perilaku pedofilia, Waspadai, dan langkah-langkah antisipasinya.

Bapak-ibu sekalian, Mengenali karakteristik dan perilaku pedofilia sangat penting bagi kita.

Dewasa ini berkembang berita yang meresahkan bagi kita, terutama orang tua terkait ditemukannya jaringan pedofilia yang mempunyai komunitas cukup eksis di media sosial.

Dalam komunitas grup pelaku pedofilia, mereka mengunggah video maupun foto yang berkaitan dengan anak-anak.

Dan apa yang menjadi perbincangan di grup komunitas tersebut tidak pantas untuk dibahas di dalam sebuah grup komunitas.

Ancaman yang terbesar adalah masa depan anak-anak kita jika mereka menjadi korban dari pelaku pedofilia. 

Oleh karena itu,

Kita perlu melakukan antisipasi pelaku pedofilia dengan mengenali karakteristik dan perilaku pedofilia yang dapat menjadi indikator dari pelaku pedofilia.

Berikut bahasan Artikel kita kali ini :

Pengertian Pedofilia, (Mengenali Karakteristik dan Perilaku Pedofilia)Indikator Pedofilia.

Ciri/ karakteristik dan perilaku dari pelaku kejahatan pedofilia

Sebagai  antisipasi, apa sajakah yang dapat kita lakukan?

mengenali karakteristik dan perilaku pedofilia

Pengertian Pedofilia, (Mengenali Karakteristik dan Perilaku Pedofilia)

Pedofilia merupakan perilaku menyimpang pada orang dewasa atau remaja berupa hasrat seksual terhadap anak-anak berusia dibawah 13 tahun.

Orang yang mengidap pedofilia disebut pedofil.

Sebenarnya pemerintah sendiri sudah melakukan antisipasi tentang kejahatan pedofilia.

Menurut Dr. Sukiman, Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga, Kemdikbud, ”Pedofila merupakan kejahatan luar biasa dengan ancaman 18 tahun penjara.

Korban pedofilia yakni anak-anak baik laki-laki dan perempuan. Kasus ini banyak terjadi di berbagai daerah dengan banyak korban.

Karena itulah peran orang tua sangat penting dalam pengawasan anak-anaknya, termasuk juga lingkungan yang turut peduli dengan masalah ini,”

Berdasarkan diagnose medis, pedofilia termasuk salah satu gangguan kejiwaan yang terbagi menjadi tiga jenis.

Baca Juga  Manfaat Orang Tua Menemani Anak dalam Bermain dan Belajar Perlukah?
Pertama, immature pedophiles,

yakni pedofilia yang cenderung melakukan pendekatan pada target dengan memberikan iming-iming pada korban.

Kedua, regressed pedopholes,

pelaku pedofilia ini beraksi dengan langsung memaksa korban tanpa memberikan iming-iming tertentu.

Dan yang  ketiga,

aggressive pedophiles yakni pedofilia yang paling parah dimana pelaku pedofilia memiliki keinginan untuk menyerang korban, bahkan berpotensi membunuh korban setelah dinikmati.

Dalam beberapa kasus, pelaku pedofilia dapat terjadi pada orang-orang yang dipercaya atau dekat dengan orang tua, seperti supir, asistan rumah tangga, pelatih, tetangga, pengajar atau bahkan saudara.

”Biasanya pelaku sangat senang bermain  dengan anak-anak.

Ada yang menyamar sebagai pelatih permainan kesukaan anak seperti sepak bola.

Pelaku mempengaruhi anak dengan pura-pura bersikap baik seperti membelikan bakso atau jajanan,” tambah Dr. Sukiman.

Sebagai langkah pencegahan, kita perlu Antisipasi Kejahatan Pedofilia dengan mengenali karakteristik dan perilaku pedofilia.

Indikator Pedofilia. Berikut ciri/ karakteristik dan perilaku dari pelaku kejahatan pedofilia:

  1. Sebagian besar, pelaku adalah orang yang sudah dewasa.
  2. Sudah menikah.
  3. Bisa dari berbagai profesi pekerjaan. Baik itu pekerja ringan, sedang maupun kasar.
  4. Memiliki kedekatan hubungan dengan anak-anak, sangat suka berada disekitar anak-anak, mereka berpura-pura menyayangi dan merawat anak-anak. Dibalik itu, mereka mempunyai rencana lain untuk melancarkan aksinya.
  5. Pelaku pedofil memiliki kecenderungan suka menutup diri, untuk antisipasi agar perilaku menyimpang mereka pada anak-anak tertutupi.
  6. Menyukai anak-anak yang sedang berkumpul. mereka memiliki target dan kriteria anak yang akan dijadikan korban.
  7. Calon korban boleh jadi anak laki-laki ataupun perempuan, mungkin juga bi-sexual. Terkadang mereka tidak memperhatikan gender dari korban, yang penting keinginan mereka untuk melampiaskan keinginan mereka tercapai.
  8. Pekerja atau relawan yang mengikuti program yang melibatkan anak seusia incaran mereka. Mungkin saja guru, pelatih yang membimbing anak kita, dapat berubah menjadi orang yang paling berbahaya untuk anak kita. Oleh karena itu, kita perlu tetap waspada, jika mereka melakukan perilaku menyimpang terhadap anak kita. Karena kita sulit untuk mendeteksi perilaku mereka.
  9. Obsesi mereka kepada anak atau bahkan balita. Tujuannya untuk mendapatkan kepuasan dengan melancarkan perilaku menyimpang mereka.
  10. Sering memotret atau mengumpulkan foto korbannya, baik berpakaian, atau telanjang. mereka ingin memiliki gambar anak-anak di sekitar sehingga dapat melampiaskan keinginan mereka, kemudian merencanakan aksi mereka.
  11. Menggunakan obat-obatan, maupun obat bius ketika melaksanakan aksi mereka.
  12. Para pelaku termasuk orang-orang yang cerdas, dan dapat memanipulasi keadaan, sehingga perilaku mereka sulit terdeteksi.
  13. Selalu berusaha keras dan berupaya melakukan apa saja untuk menyembunyikan perilaku mereka, bahkan dalam jangka waktu yang cukup lama.
  14. Usaha mereka rapi, dan selalu berupaya agar aktivitas mereka terlihat normal-normal saja.
  15. Kesukaan mereka kepada anak-anak yang agresif. Mereka menjanjikan hal-hal yang disukai anak-anak, seperti mainan, baju, atau yang lainnya.
  16. Mereka suka melakukan publikasi perilaku mereka di komunitas mereka secara online, entah itu di facebook, google+, twitter, instagram atau yang lain.
Baca Juga  Jadwal liburan Sekolah Semester 1 Gasal 2017 2018 SD MI SMP MTS SMA SMK

Sebagai  antisipasi, apa sajakah yang dapat kita lakukan?

Dengan ciri-ciri tersebut, orang tua diharapkan untuk waspada terhadap orang di sekitar anak kita. antara lain :

  1. Kita perlu mengenal teman sepermainan anak kita. Kalau perlu kita juga perlu mengenal orang tuanya agar nantinya kita dapat saling berkomunikasi.
  2. Kenalkan kepada anak, bagian tubuh yang tidak boleh dipegang oleh orang lain, seperti mulut, dada, serta area sekitar celana.
  3. Kita ajari anak kita untuk tidak segan-segan berteriak ‘jangan’ dan berusaha meminta tolong kepada orang disekitar, jika mereka merasa tidak nyaman atau terancam dengan orang lain.
  4. Untuk anak-anak dibawah usia 8 tahun hendaknya kita melakukan pengawasan saat bermain.
  5. Ciptakan komunikasi dengan anak sehingga mereka terbuka kepada kita, sehingga ketika mereka menemui masalah, mau menceritakan masalah mereka kepada kita.
  6. Amati bagian tubuh dan perilaku anak, seperti gangguan kesehatan seperti rasa nyeri pada lubang dubur atau alat kelamin, gangguan kejiwaan seperti ketakutan atau kecemasan yang berlebihan, atau prestasi sekolah menurun.
  7. Jika terburuknya anak telah menjadi korban, (1) peluk dan dengarkan keluhannya dengan sabar (tanpa menyalahkan); (2) jika ada gangguan kesehatan/kejiwaan, segera bawa ke dokter/psikolog; dan (3) laporkan kejahatan tersebut ke kantor polisi agar pelakunya segera ditindak.

Untuk para orang tua, juga dapat memotivasi putra putri anda dalam kehidupan disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.