Pramuka Makan Tanpa Alas di Lapangan, Tanggapan beberapa pihak berikut panitia

Setelah beredar beberapa gambar yang menghebohkan di media sosial, yang berisi foto pramuka makan tanpa alas di sebuah lapangan, mendapat kritikan dari berbagai pihak.

Berikut kutipan dari beberapa tanggapan dari beberapa pihak berikut dari panitia penyelenggara:

Pramuka makan tanpa alas

Kak Suyatno selaku Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Nasional (Kapusdiklatnas) Gerakan Pramuka ikut menyesal dengan adanya kegiatan makan tanpa alas di lapangan yang menjadi heboh di media sosial.

Menurutnya kegiatan yang nampak di dalam foto tersebut tidak mencerminkan nilai kepramukaan.

Kata Kak Suyatno saat dihubungi, “Makan bagi peserta didik adalah pembelajaran adab yang berujung pada kemanusiawian.

Makan itu proses beretika yang berpayung pada prinsip dasar kepramukaan dan kode kehormatan.

Sekaligus ‎makan harus dijadikan momentum bagi anak untuk mengenali gizi, tatacara, dan proses bersamaan”, Sabtu (25/3/2015)‎.

Selanjutnya beliau menambahkan Kak Suyatno “Pembina harus disadarkan bahwa posisinya sebagai pendidik sekaligus mitra bagi peserta didik.

Pembina perlu ditegur jika menyalahi prosedur membina,” (HA/Humas Kwarnas).

Tanggapan lain juga diutarakan oleh Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka, Adhyaksa Dault

Berikut tanggapan pramuka makan tanpa alas

Melalui akun Instagram pribadinya, @adhyaksadault,pramuka makan tanpa alas 2

Adhyaksa menyatakan dirinya turut prihatin melihat kejadian pramuka makan tanpa alas.

Ia menyampaikan keprihatinannya atas beredarnya dua foto yang memperlihatkan foto pramuka makan tanpa alas dengan foto beralas daun yang semestinya dilakukan.

adhyaksadault “Assalamualaikum Wr.Wb. Salam Pramuka.

Pagi ini (25/03/2017) di grup wa, saya menerima foto beberapa Pramuka makan bersama di suatu tempat, namun nasinya ditaruh di rumput tanpa alas.

Saya cek, foto tersebut sudah menyebar di media sosial, dan mendapatkan kritik keras bahkan kecaman dari anggota Gerakan Pramuka. Saya tegaskan

ini bukan bagian dari pendidikan dan pembinaan di Gerakan Pramuka, saya sangat menyayangkan ini. Saya pastikan

bahwa pembina kegiatan tersebut belum mengikuti atau memenuhi kualifikasi pelatih dan pembina Pramuka.

Sebagai informasi, setiap harinya, ada ribuan kegiatan Gerakan Pramuka dilaksanakan di sekolah-sekolah dan alam terbuka di seluruh Indonesia,

dan semua kegiatan Pramuka itu mendidik, menggembirakan, menginspirasi serta menyenangkan, menguatkan persaudaraan anak-anak kita.

Saya sudah berkoordinasi dengan Kak Prof. Dr. Suyatno, M.Pd (Kepala Pusdiklatnas Kwarnas Gerakan Pramuka), Kak Prof. Dr. Ir. S Budi Prayitno, M.Sc (Wakil Ketua Kwarnas Bidang Pembinaan Anggota Muda), Kak Dr. Susi Yuliati (Wakil Ketua Kwarnas Bidang Pembinaan Anggota Dewasa), dll

Saya minta agar Panitia kegiatan tersebut ditegur dan diberikan pembinaan.

Kejadian ini (pramuka makan tanpa alas) harus dijadikan pelajaran berharga, dan tidak boleh terulang kembali.

Baca Juga  Soal dan Kunci Jawaban UNBK Bocor? Jangan Khawatir

Kita akan selesaikan ini dengan sebaik-baiknya. Paling lambat Senin, 27 Maret 2017, masalah ini sudah jelas duduk perkaranya dan selesai.

Sebagai penutup, saya serukan kepada Pramuka dimanapun berada:

Ada ribuan foto dan video kegiatan Pramuka di setiap telepon genggam dan labtop anak Pramuka, saya minta posting, upload semua foto dan video tersebut di medsos.

Agar dunia tahu bahwa kegiatan Pramuka itu mendidik, menggembirakan, menginspirasi serta menyenangkan, menguatkan persaudaraan anak-anak kita. Jangan sampai karena satu foto makan tanpa alas Gerakan Pramuka tercoreng.

Terima kasih saya haturkan kepada Kakak-Kakak Pramuka dan masyarakat atas masukannya untuk kebaikan dan kemajuan Gerakan Pramuka.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb. Salam Pramuka. Jakarta, 25 Maret 2017. Hormat saya, Kak Adhyaksa Dault (Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka)

#gerakanpramuka#setiappramukaadalahkantorberita#indonesia #pramuka

Adhyaksa dault menutup tanggapan beliau dengan himbauan kepada anggota pramuka untuk mengunggah foto maupun video dari kegiatan pramuka di media sosial.

Untuk berbagi pengetahuan kepada bahwa kegiatan pramuka itu mendidik, menggembirakan, serta menginspirasi.

Kak Mohammad Masduki, yang pernah menjadi Wakil Gubernur Banten. Kak Masduki menulis tanggapan beliau mengenai pramuka makan tanpa alas,

“Memperhatikan viral yang berkembang soal adanya foto anggota pramuka berlogo Kwarda Banten yang tengah makan bersama namun nasinya tanpa alas, tentu membuat pengurus terkejut dan prihatin.

Jika foto tersebut benar demikian adanya di lapangan, jelas melukai pola pembinaan yang selama ini pengurus tetapkan”.

Ditambahkan Kak Masduki, “Pada prinsipnya, pembinaan yang digariskan Kwarda Banten selalu menjunjung tinggi aspek pembinaan yang memanusiakan manusia.

Kebersamaan dan menggembleng jiwa berdikari yang ditanamkan tidak dilakukan dengan cara-cara seperti yang terlihat pada viral foto tersebut”.

Kemudian dituliskannya juga, “Kami menegaskan, pengurus Kwarda Banten akan memberikan teguran dan pembinaan lanjutan terhadap Gudep (Gugus Depan – pen.)/

Kwarcab (Kwartir Cabang – pen.) bersangkutan jika kegiatan makan bersama tanpa alas itu diterapkan dengan mengatasnamakan pembinaan”.

Kak Masduki juga menyampaikan permintaan maaf kepada semua pihak, termasuk kepada peserta, keluarga, maupun masyarakat umum.

Tentu saja permintaan maaf juga disampaikan kepada keluarga besar Gerakan Pramuka. Akhirnya, ada juga yang mengirimkan pernyataan dari panitia kegiatan tersebut ke WAG.

Begini tulisnya, “Menanggapi reaksi keras Ka Kwarnas tentang postingan kegiatan pengkaderan dan pelantikan anggota baru Saka (Satuan Karya – pen.) Wira Kartika Koramil-13/Kronjo

Baca Juga  Kenapa tidak Bisa Login di Website Registrasi CPNS Kemdikbud 2017

yang telah dilaksanakan pada tgl. 17-19 Maret 2017 bertempat di Buper (Bumi Perkemahan – pen.) Satuan Radar 211 TNI-AU

tentang pelaksanaan makan siang yang digelar di tanah langsung tanpa alas, kami klarifikasikan bahwa semua itu hanya trik hukuman yang diberikan kepada peserta,

karena pelanggaran disiplin jam ishoma (istirahat, sholat, dan makan) yang tidak sesuai jadwal”.

Ditambahkan, “Hal ini dialukan oleh panitia/SanggaKerja untuk tindakan setelah minta petunjuk dari Pamong Saka  yang bertanggung jawab di lapangan,

semua hanya dilakukan sebagai trik untuk tidak lagi melakukan kesalahan, untuk makan peserta tetap makan seperti biasa bersama-sama dengan menu yang lain … nasi yang di lapangan hanyalah sebagian kecil saja,

dan tidak semua makan kecuali yang sudah disiapkan temannya yang lain di tenda. Semua kegiatan berjalan lancar tanpa masalah.“.

Setelah penjelasan tersebut, pihak panitia menuliskan sebagai berikut,

“Kami yang bertanggung jawab atas kegiatan ini mohon maaf kepada semua unsur Pendidikan Kepramukaan dari atas hingga ke tingkat Kwarran (Kwartir Ranting – pen.) yang melihat postingan hasil upload peserta, yang entah apa maksudnya hanya iseng”.

Dilanjutkan lagi, “Tidak ada maksud  merendahkan nilai-nilai kepramukaan yang jelas melarang apa yang terlihat dalam postingan gambar,

kami tau dan kami mohon maaf atas semua yang terjadi di lapangan,

yang jelas peserta tidak makan nasi yang kotor, semua sdh diatur sesuai jadwal”.

Begitulah, ternyata itu adalah kegiatan menjelang pelantikan anggota baru Saka Wira Kartika.

Saka adalah kegiatan bagi Pramuka Penegak (16-20 tahun) dan Pandega (21-25 tahun).

Pembentukan Saka adalah sebagai wadah pendidikan untuk menyalurkan minat, mengembangkan bakat dan pengalaman para pramuka dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Di dalam Saka ada yang disebut krida, yang merupakan peminatan lebih spesialisasi lagi. Saka Wira Kartika menitikberatkan pada pembinaan dan pengembangan pendidikan bela negara bagi anggota Gerakan Pramuka.

Di dalam Saka Wira Kartika terdapat lima krida, masing-masing Krida Survival, Pioneering (Perintis), Mountaineering, Navigasi Darat, dan Bintal (Pembinaan Mental) Juang.

Dalam pembinaannya untuk Saka Wira Kartika, Gerakan Pramuka bekerja sama dengan TNI AD.

Sementara Saka lainnya dalam Gerakan Pramuka adalah Saka Bhayangkara (bekerja sama dengan Polri), Saka Bahari (dengan TNI AL), Saka Dirgantara (dengan TNI AU),

Saka Tarunabumi (dengan Kementerian Pertanian), Saka Wanabakti dan Saka Kalpataru (dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan),

Baca Juga  Soal dan Kunci Jawaban UNBK Bocor? Jangan Khawatir

Saka Bakti Husada (dengan Kementerian Kesehatan), Saka Kencana/Keluarga Berencana (dengan BKKBN), Saka Widya Bakti Budaya (dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), dan Saka Pariwisata (dengan Kementerian Pariwisata).

Tentu saja, untuk menjadi anggota Saka memang ada persyaratannya.

Lebih diutamakan apakah memang Pramuka Penegak dan Pandega yang bersangkutan benar-benar berminat untuk mengikuti Saka tersebut dan mengembangkan dirinya dalam keterampilan yang diberikan pada Saka bersangkutan.

Untuk itu, biasanya dilakukan kegiatan yang oleh sebagian orang disebut dengan “pengkaderan”.

Di sini pun memang penting untuk ditanamkan kedisiplinan, karena disiplin merupakan salah satu kunci penting untuk berhasil, termasuk berhasil dalam kegiatan Saka yang diikuti.

Bila ada yang tidak disiplin, harus dikenakan sanksi. Namun sanksi memakan nasi di tanah rerumputan tanpa alas, bukanlah sistem dan metoda pendidikan kepramukaan. Walaupun disebutkan hanya trik, seharusnya hal tersebut tidak dilakukan.

Masih banyak sanksi lain yang lebih mendidik. Misalnya, kepada mereka dikenakan hukuman mencuci piring dan semua peralatan makan sampai bersih. Bisa juga setelah selesai berkegiatan, mereka harus membongkar tenda, merapikan, dan mengangkut semua peralatan yang telah digunakan dari lapangan ke kendaraan pengangkut, yang mungkin diparkir cukup jauh.

Kelihatannya berat, apalagi para peserta itu Pramuka puteri. Membongkar tenda, mengangkut peralatan tanpa bantuan yang lain, sebenarnya tetap bisa dilakukan kalau mereka mau bekerja sama.

Masih banyak lagi sanksi lain yang bisa diberikan kepada mereka, asalkan tetap berpedoman bahwa kegiatan kepramukaan adalah kegiatan pendidikan, bukan sanksi berupa hukuman agar mereka benar-benar tertekan dan bisa saja justru tidak mau lagi ikut kegiatan kepramukaan.

Sikap Kwarnas dan Kwarda Banten sudah tepat, memberikan teguran dan pembinaan. Para anggota panitia memang jangan hanya ditegur atau dimarahi saja, tetapi harus juga diberikan pembinaan.

Termasuk bagaimanakah seharusnya melakukan pendidikan dalam kepramukaan, kegiatan apa yang sesuai dengan “alam” Pramuka, dan sebagainya.

Pada akhirnya, permintaan maaf kepada adik-adik Pramuka puteri yang menjadi peserta, keluarga mereka, dan masyarakat umum memang pantas pula disampaikan. Mudah-mudahan adik-adik Pramuka puteri tidak jera, dan tetap mau berkegiatan dalam Gerakan Pramuka.

Mudah-mudahan dengan kejadian pramuka makan tanpa Alas tersebut, dapat menjadikan pelajaran bagi kita semua

Sumber : pramuka.or.id, solopos.com, kompasiana.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.